Perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan
Hari Raya Galungan merupakan hari untuk memperingati kemenangan Dharma melawan Adharma. Hari
Raya Galungan diperingati dalam 210 hari sekali pada hari Rabu Kliwon Wuku
Dungulan. Pada hari tersebut, masyarakat Bali khususnya umat Hindu biasanya
melakukan persembahyangan atau semadhi untuk menyatukan kekuatan rohani agar
mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang
terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu
(byaparaning idep) adalah wujud adharma.
Sehari
sebelum hari Raya Galungan, umat Hindu di Bali biasanya melakukan ritual pemotongan hewan sebagai korban yang akan dipersembahkan kehadapan Ida
Sang Hyang Widhi Wasa. Hewan
yang biasanya dipotong adalah babi karena
babi dikenal sebagai hewan yang malas, rakus tamak. Maka dari itu, babi
dijadikan sebagai simbol dari Adharma (keburukan). Dengan demikian sifat-sifat
itu diharapkan dapat dilebur dan dipersembahkan pada Hari Raya Galungan agar
nantinya tidak ada lagi keinginan-keinginan seperti yang terdapat dalam
sifat-sifat babi tersebut. Pada hari Penampahan Galungan itu juga umat Hindu
melakukan pemasangan Penjor sebagai simbol dari tegaknya Dharma (kebaikan).
Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat
kebinatangan yang ada pada diri.
Tepat pada hari raya Galungan, umat Hindu melakukan
persembahyangan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk memohon
keselamatan.
Setelah hari raya
Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut sebagai Manis Galungan.
Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan Dharma. Umat pada
umumnya melam-piaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan
terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil
bergembira-ria.
Sepuluh hari kemudian,
tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan diperingati sebagai Hari Raya
Kuningan. Kata kuningan sendiri memiliki makna “kauningan” yang artinya
mencapai peningkatan spiritual dengan cara introspeksi agar terhindar dari mara
bahaya. Pada hari tersebut umat Hindu biasanya membuat nasi kuning sebagai
lambang kemakmuran yang akan dihaturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa
sebagai tanda terimakasih dan suksmaning idep kita sebagai manusia yang
menerima anugrah dari Hyang Widhi.